Sunday, November 15, 2009
Matahari di Atas Lantai
Maka aku mengerti: memandang matahari baik di langit atau di lantai tidaklah jauh berbeda, jika tidak bisa dikatakan sama saja. Pada keduanya, cahaya matahari tetap menyilaukan dan tidak bisa dipandang dengan mata telanjang. Karena langit dan lantai hanyalah media. Mereka hanyalah bingkai dimana matahari bisa menitipkan potret dirinya yang seutuhnya.
Sama halnya dengan Jerman dan Indonesia.
Mereka juga hanya media.
Mereka adalah dua tempat yang berjauhan dan memiliki banyak perbedaan.
Meski begitu, aku bisa hidup di keduanya,
tanpa menjadi (sepenuhnya) berbeda!
Saturday, September 05, 2009
Sekepal Nasi Asin
Sewaktu kecil, saat di rumah belum ada rice cooker dan sepertinya rice cooker belum begitu populer seperti sekarang atau rice cooker belum masuk desa, Mamak (harusnya Mamah, tapi berubah jadi Mamak) memasak nasi dengan priuk dan tanpa dipindah ke kukusan. Alhasil, jika priuk terlalu lama dibiarkan di kompor meski dengan api kecil, akan terbentuklah kerak nasi yang tebal di dasarnya. Nah, karena kami diajarkan untuk tidak membuang makanan, kerak ini tidak boleh dibuang. Sayang. Biasanya kerak nasi akan ditaburi garam dan dimakan dalam keadaan panas; seperti camilan. Saya tidak terlalu suka dengan kerak nasi ini. Tapi saya suka dengan kerak nasi yang lunak/ tipis. Biasanya Mamak akan mengepal-ngepal kerak lunak yang sudah ditabur garam hingga menyatu dan padat. Kadang-kadang Mamak sengaja membuatkan dari Nasi panas dan bukan dari kerak lunak. Setelah ditiup sebentar, Mamak akan memberikannya dengan cara mengulurkan tangannya yang memegang nasi kepal ke belakang (tanpa membalik tubuhnya), di mana saya sudah menunggu. Dulu saya sering malas makan, tapi saya tidak menolak jika diberi sekepal nasi panas ini.
Pernah saya bertanya tentang kenapa nasi kepal harus diberikan dengan cara tersebut di atas (lewat belakang). Karena saya pikir pasti ada alasan yang melatarbelakanginya; mungkin cara ini semacam syarat atau ritual yang harus dijalani atau ah saya tidak tahu apa yang tengah saya pikirkan saat itu. Mendengar pertanyaan ini, Mamak pun bilang bahwa tidak ada alasan atau maksud khusus apalagi mitos tentang cara tersebut. Mamak melakukannya karena kebetulan kami (baca: saya dan adik) ada di belakang Mamak. Kemudian cara ini jadi kebiasaan--tepatnya, kami jadi keterusan--karena kami hanya mau menerima nasi kepal dengan cara begitu.
Saya jadi ingat, memang pernah suatu hari saat menunggui Mamak yang sedang memindahkan nasi ke baki, Mamak membuatkan sekepal nasi asin dan memberikannya pada saya begitu saja (tidak lewat belakang). Saya menolak. Lucunya, saya langsung bangkit dari posisi duduk di samping untuk kemudian pindah ke belakang Mamak dan memintanya untuk memberikan nasi kepal ke belakang.
Jadi sebenarnya sayalah yang telah menjadikannya sebagai ritual dan bukan sedang mematuhi ritual seperti dugaan saya sebelumnya.
Saya lupa kapan terakhir kali makan nasi kepal buatan Mamak. Sepertinya saya perlu sesekali membuatnya sendiri sambil bernostalgia (halahh...). Karena tentu Mamak akan merasa aneh jika saya minta dibuatkan nasi ini di usia yang sekarang. Mungkin, kalian juga mau mencoba? Rasanya sederhana!
Thursday, September 03, 2009
Serumpun Embun dan Matahari
pada bilah-bilah ilalang
yang tumbuh di pekarangan belakang
Ada matahari
di jauhnya langit biru terang
yang setia membakar embun,
setiap menjelang siang
Embun tak pernah jera
matahari tak kenal iba
karena sesungguhnya dengan cara itu
mereka bisa mencerna kebersamaan yang tak lama
Lalu embun akan menjelma
dalam wujud yang berbeda
dan dengan cara ini ia berdoa
bisa tiba di tempat matahari
yang ratusan juta kilometer jaraknya
dari pekarangan belakang!
Monday, August 31, 2009
Kalianda dan Tradisi Mati Lampu
Saya tidak pernah tahu pasti penyebab tradisi ini masih lestari hingga kini; (kabarnya karena kekurangan pasokan energi). Yang saya tahu, tradisi ini sudah mengakar dan belum terlihat akan punah.
Saya jadi ingat saat-saat mati lampu sewaktu saya masih kecil dan masih tinggal di rumah lama yang banyak tetangga usia sebaya. Bisa dibilang saat mati lampu adalah saat yang menyenangkan, meski tak jarang kami mengumpat dan meneriakkan niat kami untuk melempari PLN. Kesenangan akan dimulai sepulang kami belajar mengaji. Kegiatan yang tiap hari harus saya ikuti selepas maghrib, hingga saya bosan dan sering mencari-cari alasan untuk bolos (biasanya saya sering pura-pura tidur menjelang maghrib; meski orang tua tahu akal-akalan ini, cara ini lumayan efektif). Bahkan mati lampu pun tak bisa jadi alasan untuk bolos mengaji. Biasanya beberapa murid mengaji akan membawa lampu cempor atau lilin demi kelancaran kegiatan ini.
Sepulang mengaji, terutama jika bulan sedang purnama, kami biasanya akan bergegas berkumpul di jalan setapak yang lumayan luas (baca: lapangan kecil) setelah menyimpan Qur'an, sarung, dan kerudung yang dilipat segitiga, dan dipakai dengan cara mengikat kedua ujungnya ke belakang kepala. Kemudian, kami bermain banyak jenis permainan. Berhubung intensitas mati lampu cukup sering, variasi jenis permainan cukup penting. Kadang kami main gobak sodor. Lain waktu Ayam-Ayaman, di mana 2 kelompok masing-masing akan menebak pemilik suara yang berkokok dalam sarung dari kelompok lawan. Ada juga permainan petak umpet berkelompok yang disebut Kau-Kauan. Sesekali kami akan bermain lempar/tendang kaleng yang ditumpuk yang intinya petak umpet juga hanya tidak berkelompok. Atau terkadang, kami main kelereng jika sedang musim main kelereng dan jika bulan sedang sangat terang, dsb.
Dari sekian jenis permainan, yang paling saya suka adalah main kelereng. Sementara yang paling memakan energi adalah Kau-Kauan! Permainan ini bisa memakan waktu berjam-jam karena wilayah persembunyian tidak dibatasi, kalaupun dibatasi pasti jaraknya cukup jauh. Ini tentu menyulitkan kelompok pencari. Bagi kelompok yang bersembunyi, menyembunyikan jumlah anggota yang lebih dari tiga adalah tantangan tersendiri. Saya masih ingat, kami akan banyak berlari sebelum menemukan tempat sembunyi yang dianggap aman. Atau memang harus banyak berlari karena harus pindah-pindah agar tak mudah ditemukan. Tempat persembunyian bisa saja di kamar mandi tetangga yang letaknya di luar rumah. Di antara gang sempit yang memisahkan dua rumah. Kadang di halaman rumah atau di antara tumpukan kayu bakar di belakang rumah tetangga. Pernah juga di bagian bawah rumah panggung yang sekarang sudah bisa dikatakan punah. Sesekali, pemimpin kelompok membagi tempat sembunyi anggotanya di beberapa tempat agar tidak mencolok saat sembunyi di tempat yang sempit, dll.
Meski saya sangat menikmati permainan-permainan tersebut, tidak seharusnya mati lampu yang jadi penyebabnya. Apalagi di jaman sekarang, tidak mungkin saya main permainan tersebut pada usia yang sekarang saat terkena giliran mati lampu. Dan saya tidak yakin apakah anak-anak jaman sekarang masih kenal dan memainkan permainan tersebut, khususnya saat mati lampu. Intinya, seharusnya mati lampu bergilir tidak lagi terjadi dan menjadi warisan tradisi.
Kalianda memang kota kecil, tapi kota ini terus bertumbuh dan semakin populer dengan banyak pilihan lokasi wisata pantainya. Sangat disayangkan jika Kalianda masih juga mati lampu bergilir; sungguh tidak mencirikan identitas kota yang sedang berkembang. Karena ketidakmampuan pihak terkait menyiasati masalah ini sejak berpuluh tahun lamanya, Kalianda bisa saja dibilang tertinggal. Bagaimana tidak, sementara orang sudah bisa bolak balik berwisata ke bulan, melakukan kloning, membuat banyak robot, mampu membuat energi alternatif, menciptakan "dunia" digital, dsb; Kalianda masih megap-megap kekurangan pasokan energi listrik. Padahal, listrik sudah ditemukan jauh lebih dulu dan tentunya sangat menunjang semua penemuan yang baru saja saya sebutkan.
Free Writing: Semut Merah, (dulu) Teman, Maaf, dan Tuhan
Saya lagi inget temen. Temen yang cukup akrab. Tapi dulu. Sekarang ga lagi. Ga mau lagi. Saya belum bisa maafin dia. Berdosa ga ya? Sedang Tuhan aja Maha Pengampun dan Maha Pemaaf. Lalu siapa saya kok berani-beraninya tidak memaafkan?! Eh, tapi kan saya hanya manusia biasa, ga luput dari salah juga. Jadi bisakah saya tidak memaafkan dengan alasan bahwa saya bukan Tuhan? Bahwa saya hanya manusia?
Ehm... Teman saya juga manusia; mungkin dia dulu khilaf dan sekarang sudah insaf. Saya juga pasti punya salah sama dia, mengingat kita menuai apa yang kita tanam. Mungkin teman ini sekarang sudah berubah. Saya juga banyak berubah sejak tahun itu. Tapi, ya ampun... Emang mudah apa maafin gitu aja. Luka di hati masih belum kering. Perasaan sakit karena merasa dikhianati temen sendiri belum lagi terobati. Sekali lagi, berlebihan kah kalau saya belum mau memaafkan?
Saya tidak lagi sudi, tak lagi berminat berbasa-basi dengan temen ini. Saya ga lagi bisa melabeli dirinya sebagai temen saya. Tapi saya juga ga melabeli dia sebagai musuh kok. Saya juga males melabeli dia sebagai bekas temen lama. Aduh, jadi bingung saya! Untuk sementara saya biarin dia tanpa label aja deh. Tapi aneh juga ya kalau dia ga punya label apa-apa. Bahkan makhluk tak kasat mata aja punya label: hantu namanya...
Dipikir-pikir, kalau dulu saya ga bermasalah dengan temen ini, tentu saya ga akan ketemu dengan temen-temen yang sekarang: (salah satunya) temen-temen klab nulis! Karena bermasalah dengannya, saya lari ke tempat lain. Menyibukkan diri biar lupa dengan sakit hati. Hingga akhirnya ketemu temen-temen baru yang saat bersama mereka, saya merasa seolah "menemukan diri" saya yang lain. Wah kalau sudah begini, rasanya akan bijaksana jika saya memaafkan temen ini dan berterimakasih ya. Karena secara ga langsung, dia membuat saya menemukan tempat, temen, dan kehidupan lain yang menyenangkan, yang kemudian membawa saya ke tempat dan pengalaman baru yang tak kalah menyenangkan.
Ah! Tapi, tetep ga bisa! Saya belum bisa bersikap biasa dan seolah ga pernah terjadi apa-apa, lalu maafin dia, terus dengan senang hati berbasa-basi lagi untuk menyambung tali silaturahmi dengannya...
Jadi, Tuhan, ijinin saya untuk ga maafin dan nyambung tali silaturahmi dengan temen yang ini ya. Boleh, ya? Kan Tuhan Maha Pengampun dan Maha Pemaaf... (Lhhoo? Jadi dibolak-balik gini...). Abis dia jahat sih, sadis! *lebayyy...*. Udah ah. Pokoknya saya masih belum bisa maafin. Titik!
Wednesday, August 26, 2009
Bandung-Lampung: 21 Agustus 2009
Tak jarang, meski tidak ahli dalam fotografi, saya akan memotret pohon yang terlihat bagus atau rumpun ilalang yang berbunga banyak berwarna putih atau objek lain yang saya lihat. Tapi hari ini saya tidak berminat sama sekali. Saya bahkan lupa akan kebiasaan yang satu ini, jika saja tidak diingatkan oleh seorang teman yang kebetulan menelpon saat saya hendak naik bus.
Dan entah karena feeling atau kebetulan atau apalah namanya, ternyata saya pun tidak menemukan objek foto yang menarik untuk diabadikan sepanjang perjalanan. Kemarau. Kering. Pohon dan tumbuhan yang biasa hijau, kini kehilangan daun atau berubah warnanya. Sawah-sawah yang serupa karpet tebal berwarna hijau atau kuning juga tak terekam oleh mata. Rumput dan ilalang di pinggir jalan kebanyakan hangus--entah sengaja dibakar atau tak sengaja terbakar oleh api dari puntung rokok yang dibuang sembarangan. Tanah-tanah berwarna cokelat muda: kering, gersang. Sungai-sungai tak kalah cokelat dan surut airnya.
Meskipun begitu, saya tetap duduk sambil mata menembusi pemandangan luar jendela, dan sedikit membelakangi penumpang di samping. Sesekali saya mengangkat kaki dan melipatnya di atas kursi. Tak peduli jika penumpang sebelah menganggap tidak sopan karena sudah membelakangi juga mengangkat kaki ke kursi. Saya hanya ingin memandang ke luar jendela. Mengamati kehidupan yang bergerak di luar jendela seiring gerak laju bus Arimbi yang membawa saya melintasinya. Tak masalah pemandangannya hijau atau gersang, yang penting adalah memandang ke luar jendela.
Kiranya inilah separuh esensi perjalanan kali ini (dan mungkin juga setiap perjalanan): bukan pemandangannya yang terpenting tapi bagaimana menikmati pemandangan sepanjang jalan itulah yang utama!
Saturday, August 22, 2009
Pintu
Kenapa mengetuk pintunya jika tidak ingin masuk? Merepotkanku saja!
Kau tahu tidak? Membuka dan menutup pintu membutuhkan tenaga. Maka tak bisakah kau sedikit menghargainya?!

